Kisah Kelam Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu

Bekasi, ForumJabar.com–Sebuah rumah bercat merah muda di Jalan Siliwangi, Kelurahan Paoman, menyimpan misteri kelam: satu keluarga ditemukan tewas dan terkubur dalam satu lubang di halaman belakang rumah mereka.

Kejadian itu mengguncang warga dan menarik perhatian nasional. Berikut kisahnya, potret korban, pelaku, kronologi, dan keresahan yang menyelimuti tragedi ini.

 

Penemuan mayat di belakang rumah

Kecurigaan mulai muncul pada Kamis, 28 Agustus 2025. Seorang tetangga bernama Sohib berkali-kali mencoba menghubungi Euis Juwita Sari, menantu korban, via WhatsApp.

Semua pesan itu tak pernah dibalas. Rumah sepi, pintu terkunci, tidak ada aktivitas. Hingga akhirnya beberapa ibu-ibu di lingkungan sekitar terdorong rasa ingin tahu untuk mengecek kondisi rumah.

Pintu depan rumah didobrak. Bau menyengat menyesaki udara. Di halaman belakang, sebuah gundukan tanah dengan potongan tubuh tampak mencuat keluar.

Evakuasi jenazah pun dilakukan; warga temukan lima orang, satu keluarga: Sachroni (70/76 menurut sumber berbeda), putranya Budi Awaludin (45), istrinya Euis Juwita Sari (43), juga dua cucu mereka, Ratu Khairunnisa (7) dan bayi berusia 8 bulan.

 

Penangkapan pelaku

Tim Resmob Polres Indramayu bersama jajaran Polda Jawa Barat langsung bergerak melakukan penyidikan dan memperoleh identitas pelaku.

Pelaku diduga adalah orang yang dikenal dekat dengan korban, yakni Ririn Rifanto (35 tahun). Polisi juga meyakini Rifanto tidak melakukan aksinya sendirian. Berdasarkan investigasi awal, Rifanto dibantu rekannya, Prio Bagus Setiawan (29 tahun).    

Perburuan pun dimulai, polisi menyisir sejumlah lokasi persembunyian, termasuk rumah kerabat dan kontrakan yang diduga pernah disinggahi pelaku.

Pengejaran berlangsung selama lebih dari 24 jam. Polisi akhirnya berhasil menangkap Ririn saat bersembunyi di sebuah kontrakan di daerah Indramayu. Saat ditangkap, pelaku tidak melakukan perlawanan, namun terlihat lemas dan pasrah.

Kapolres Indramayu, AKBP M. Fahri Siregar, menegaskan bahwa keberhasilan penangkapan ini berkat kerja cepat aparat dan dukungan informasi dari masyarakat. “Kami mengerahkan seluruh sumber daya untuk menangkap pelaku secepat mungkin. Alhamdulillah, pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan,” ungkapnya.

 
Runutan Kejadian Menurut Polisi

Berdasarkan rilis resmi pihak kepolisian, berikut urutan kejadian yang telah dikonfirmasi:

  1. Transaksi Rental Mobil dan Konflik Awal

    Pelaku Ririn Rifanto menyewa mobil milik korban, Budi Awaludin (BA), membayar sewa sebanyak Rp750.000. Ririn dijadwalkan mengambil kembali mobil pada 27 Agustus 2025, namun mobil tersebut sedang mogok. Ketika Ririn menagih uang sewa, korban mengatakan bahwa uang sudah dipakai untuk membeli sembako dan meminta waktu. Persoalan ini memicu rasa kesal dari Ririn.

  2. Perencanaan Aksi

    Menurut Kepolisian, Ririn kemudian merencanakan pembunuhan. Persiapan termasuk membeli cangkul dan besi pipa di pasar, membawa perlengkapan tersebut ke rumah korban untuk melaksanakan rencana. 

  3. Eksekusi di Lokasi Kejadian (TKP)

    Pada 29 Agustus 2025, Ririn dan Prio Bagus Setiawan mendatangi rumah korban. Ririn awalnya mengajak korban (‘BA’) keluar ke pekarangan rumah dengan alasan bisnis BBM sebagai alibi. Begitu korban berada di luar, Ririn memukul kepala korban dengan pipa hingga tersungkur. Prio menjaga pintu rumah agar tidak ada yang keluar atau masuk selama aksi berlangsung.

  4. Pembunuhan Istri dan Anak-anak

    Setelah membunuh BA, Ririn masuk ke dalam rumah dan membunuh orang tua korban (Sachroni), kemudian istri korban dan kedua anaknya. Istri dan anak pertama (usia 7 tahun) dibunuh dengan pipa, sedangkan anak kedua (bayi 8 bulan) dibenamkan ke bak mandi hingga meninggal.

Upaya Menghilangkan Jejak & Akhirnya Penguburan

Pelaku merapikan kondisi rumah setelah pembunuhan dan melakukan penghilangan barang bukti. Ririn disebut membuang pipa ke Sungai Cimanuk. Mereka juga membawa mobil korban (Corolla) dan melarikan diri ke sebuah hotel.

Motif pelaku

Dari hasil penyelidikan, polisi memastikan bahwa motif pelaku berlapis:

  • Masalah hutang dan bisnis BBM. Pelaku merasa rugi besar akibat bisnis yang gagal bersama korban.

  • Dendam pribadi. Ririn sakit hati karena merasa korban sering mempermalukannya.

  • Niat terencana. Fakta bahwa pelaku menyiapkan pipa besi dan menggali lubang sebelum kejadian menjadi bukti bahwa ini bukan tindakan spontan.

M. Fahri Siregar, menegaskan bahwa faktor ekonomi dan dendam bercampur menjadi pemicu pelaku nekat menghabisi satu keluarga.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *