Oleh : Yayat Suratmo
Bulan Rabiul Awal yang jatuh pada pertengahan September-Oktober 2025 pada kalender masehi ini, diperingati umat Islam sebagai Bulan Maulid Nabi SAW, atau bulannya kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Begitu banyak kisah yang meriyawatkan kelahiran sang Nabi SAW yang dapat ditemui dalam buku-buku sirah nabawiyah atau syair-syair Maulid Nabi SAW. Namun kali ini, tulisan ini akan membahas konteks dan latar belakang sejarah yang mengiringi kelahiran mahluk paling sempurna tersebut.
Salah satu konteks sejarah yang menarik adalah, menelusuri kondisi sosial polik Kota Mekkah sebelum kedatangan Islam atau Pra Islam.
Kota yang Maju
Pada masa itu, Mekkah merupakan kota yang maju dan menjadi pusat perdagangan para kabilah-kabilah Arab. Hal itu tidak terlepas dari keberadaan Ka’bah yang menjadi episentrum penyembahan agama-agama pra Islam.
Setiap tahun ratusan peziarah dari berbagai penjuru mendatangi bangunan yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tersebut. Tak hanya berziarah, mereka juga berdagang di Kota Mekkah, sehingga Mekkah menjadi pusat perdagangan penting di Arab pada masa itu.
Bahkan sistem sosial masyarakat pada masa itu terbilang mapan, dibuktikan dengan berkembangnya bahasa Arab (linguistik) secara signifikan.
Bayangkan ini, di masa itu masyakat Arab Mekkah sudah memiliki kosa kata yang kompleks dan tinggi untuk menamai benda atau binatang. Contohnya, kata Unta, mereka memiliki kata yang berbeda untuk menyebut unta dewasa, unta muda, hingga unta yang baru lahir. Semua sebutannya berbeda.
Tingginya kaidah bahasa Arab membuatnya menjadi bahasa dengan kosa kata paling banyak di dunia, yakni mencapai mencapai 12 juta kosa kata.
Kata-kata ini berasal dari sistem akar kata yang kaya dibarengi kemampuan membentuk banyak turunan kata. Kekayaan ini juga dipengaruhi oleh sejarahnya yang panjang, banyaknya dialek, serta signifikansinya dalam agama dan sastra.
Namun di balik kemajuan peradabannya, Kota Mekkah menyimpan sisi gelap, yakni kacaunya tatanan etik dan moral. Hal itu juga dibarengi dengan kezaliman religius, persaingan politik-ekonomi yang kejam, hingga kesewenang-wenangan pemilik kuasa.
Ini bukanlah omong kosong, tetapi sejarah yang nyata, Kota Mekkah adalah potret dramatik dari sebuah peradaban yang maju namun kelam dari sisi moral dan etika. Yang selanjutnya kita sebut periode jahiliyah.
Bukti nyata kebobrokan jahiliyah di antaranya, sistem patriaki yang ekstrem. Wanita hampir tak memiliki harga diri, mereka tak ubahnya seperti barang yang dapat diperjualbelikan. Di jaman itu, melahirkan bayi perempuan merupakan aib. Tak heran banyak orangtua yang membunuh bayi perempuan yang baru lahir.
Lalu marak juga perjudian dan minum minuman keras (khmar). Segala hal oleh masyarakat Kota Mekkah dapat dijadikan ajang taruhan atau judi. Mereka bahkan bisa saling bunuh karena perjudian.
Mekkah sudah lama dikenal sebagai pusat keagamaan sekaligus jalur dagang penting. Ka’bah, yang seharusnya menjadi simbol tauhid, justru dikelilingi ratusan berhala. Sejumlah sejarawan Islam meyakini tidak kurang terdapat 360 berhala di dalam Ka’bah maupun di sekelilingnya.
Setiap suku membawa dewa mereka, dan para pedagang serta peziarah berdatangan dari berbagai penjuru. Di sinilah suku Quraisy memegang peranan utama. Mereka bukan hanya penjaga Ka’bah, tetapi juga pengendali roda ekonomi dan politik Mekkah.
Kondisi tersebut menjadikan Mekah kota yang makmur, namun timpang. Elit Quraisy menikmati keuntungan besar, sementara masyarakat kecil sering kali terpinggirkan. Agama pun berubah fungsi: dari jalan spiritual menjadi alat legitimasi sosial dan politik.
Di kota seperti itulah Muhammad bin Abdullah lahir. Muhammad bin Abdullah merupakan keturunan dari Bani Hasyim, salah satu klan yang cukup disegani dalam kelompok Quraisy.
Suku Quraisy merupakan suku terbesar dan terkuat di Kota Mekkah. Berbeda dengan klan lain, Bani Hasyim dikenal sebagai kelompok keluarga yang sederhana dan dermawan. Keluarga Bani Hasyim juga dikenal tidak suka berjudi, dan tidak menyukai peperangan antar suku.
Singkatnya, di antara klan Quraisy, Bani Hasyim merupakan klan yang dihormati karena memegang teguh nilai-nilai yang dibawa oleh leluhur mereka, yakni Nabi Ibrahim AS.
Tahun Gajah
Salah satu peristiwa paling monumental yang menggambarkan dinamika sosial-politik pra-Islam adalah penyerangan Abrahah ke Mekkah di tahun Tahun Gajah.
Pada masa itu, Abrahah—panglima yang mendapat sokongan Bizantium dan Habsyah—datang dengan pasukan gajah perkasa untuk meruntuhkan Ka’bah. Aksi ini bukan sekadar upaya militer, melainkan juga tantangan terhadap legitimasi religius dan ekonomi yang selama ini terikat pada Mekkah.
Serangan Abrahah memperlihatkan bahwa Ka’bah tidak hanya berfungsi sebagai bangunan suci, tetapi juga sebagai pusat kekuasaan simbolik yang menopang prestise suku Quraisy dan posisi Mekah di jalur perdagangan internasional.
Dengan kata lain, menyerang Ka’bah berarti mengguncang tatanan politik, ekonomi, sekaligus keyakinan spiritual masyarakat Arab.
Menurut catatan sejarah , ekspedisi ini sesungguhnya merupakan drama perebutan pengaruh: kekuatan duniawi berusaha menundukkan simbol-simbol transendental. Namun, yang terjadi justru sebaliknya—rakyat Mekah semakin meyakini bahwa Ka’bah memiliki perlindungan ilahi.
Insiden ini menegaskan bahwa simbol spiritual bisa lebih kokoh daripada senjata dan gajah perang, sekaligus mengangkat posisi Mekah dalam percaturan geopolitik kawasan.
Bersambung…Maulid Nabi SAW : Kondisi Sosial-Politik Mekkah Pra Islam (2)

